Dialog Ibnu Umar & Penggembala Kambing
Kultum Ramadhan: Dialog Ibnu Umar & Penggembala Kambing
H. Bimawan Syamsudin, S.P
Wakil Sekretaris PDM Sukoharjo
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
حَمْدًا وَشُكْرًا لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ اللَّهِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ…
Jamaah yang berbahagia,
Tema kultum kita kali ini adalah tentang Sahabat Abdullah bin Umar RA yang menguji keimanan seorang penggembala. Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Jauzi rahimahullah dalam Kitab Sifatush-Shafwa.
Abdul Aziz bercerita bahwa, Nafi’ berkata: Aku pergi bersama Ibnu Umar ke beberapa daerah di Madinah, dan beliau ditemani beberapa orang sahabat. Ketika mereka sedang menyiapkan makanan, ada seorang penggembala lewat.
Ibnu Umar berkata kepadanya, هَلُمَّ يَا رَاعِي فَاَصِبَ مِنْ هَذِهِ السَفْرَة "Kemarilah, wahai penggembala, dan nikmatilah makanan ini."
Ia berkata, اِنِّي صَائِمٌ "Aku sedang berpuasa."
Ibnu Umar berkata kepadanya,
مِثلِ هَذَا الْيَومُ الشَّدِيدُ حَرَّه وَأَنتَ فِي هَذِهِ الشُعَاب فِي آثَارِ هَذِهِ الغَنَم وَبَيْنَ الجِبَال تَرْعَى هَذِهِ الغَنَم وَأَنْتَ صَائِمٌ
"Di hari yang panas seperti ini, dan engkau berada di lembah-lembah ini, menggiring domba-domba ini, dan di antara pegunungan, menggembalakan domba-domba ini, dan engkau sedang berpuasa?"
Penggembala itu berkata, أَبَادِرُ أَيَّامِي الخَالِيَة"Aku sedang memanfaatkan hari-hari luangku sebaik-baiknya."
Ibnu Umar RA terkesima dan berkata,
هَلْ لَكَ أَن تَبِيعَنَا شَاةَ مِن غَنَمِكَ نَجْتَزِرُهَا وَنُطْعِمُكَ مِن لَحْمِهَا مَا تقطر عليه وتعطيك ثمنها؟
"Maukah engkau menjual seekor domba dari kawananmu kepada kami agar kami dapat menyembelihnya dan memberimu makan dagingnya, dan memberikan harganya kepadamu?"
Penggembala berkata, إِنَّهَا لَيْسَت لِي إِنَّهَا لِمَوْلَاي"Itu bukan milikku; itu milik tuanku."
Ibnu Umar berkata, فَمَا عَسَيْتُ أَن يَقُولَ كُلُ مَولَاكَ إِن قُلتُ أَكَلَهَا الذِّئْبُ"Apa yang akan dikatakan tuanmu jika engkau mengatakan bahwa itu dimakan serigala?"
Maka penggembala itu melanjutkan, sambil mengangkat jarinya ke langit, berkata, فأين الله؟"Di mana Allah?"
Dia terus bertanya, أين عمر ; فأين الله “Di mana Umar?” “Di mana Allah?"
Kemudian setelah tiba di Madinah, Ibnu Umar mengutus orang kepada tuan penggembala tadi, kemudian membeli gembala sekaligus domba-dombanya. Dan ia membebaskan gembala itu dan memberikan kepadanya domba-domba itu, semoga Allah merahmatinya.
Kultum Ramadhan: Tuntunan Fidyah
Jamaah yang berbahagia,
Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kisah tersebut?
Akan kita coba memahami apa saja yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari kisah tersebut:
1. Berbagi dimana saja. Saat Abdullah bin Umar RA bersama sahabat-sahabatnya sedang menyiapkan santap siang, maka tidak lupa beliau menawari orang-orang yang ada di sekitarnya baik sudah kenal atau belum. Dan bukan sekedar basa-basi, tapi benar-benar menawari makanan. Dalam hadis riwayat Imam Abu Dawud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ إِذَا كُنْتَ فِى وَلِيمَةٍ فَوُضِعَ الْعَشَاءُ فَلاَ تَأْكُلْ حَتَّى يَأْذَنَ لَكَ صَاحِبُ الدَّارِ.
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda, “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.”
2. Puasa Sunnah, selagi sehat kapan saja dimana saja. Saat kondisi menggembala kambing di padang pasir, panas dan jauh dari pohon-pohon peneduh, seorang penggembala kambing tetap menjalankan puasa sunnah. Hal ini dilakukan untuk memanfaatkan waktu dan kondisi yang sedang lapang.
Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda kepadaku:
صُمْ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا, وذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ.
“Puasalah tiga hari dari tiap bulan. Sesungguhnya amal kebaikan itu ganjarannya sepuluh kali lipat, sehingga ia seperti puasa sepanjang masa.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)
3. Sederhana hidupnya belum tentu imannya juga sederhana. Ketika penggembala kambing menjawab pertanyaan Abdullah bin Umar, dengan pertanyaan, “Dimana Allah?”, maka kalimat singkat itu bisa menggetarkan sanubari Abdullah bin Umar, bahkan dalam sebuah riwayat diceritakan Abdullah bin Umar sampai menitikkan air mata saking kagumnya dengan kualitas keimanan si anak budak penggembala itu. Bahkan mengulang-ulang kalimat قال الراعي فأين الله (berkata si penggembala, Dimana Allah?) sampai tidak terhitung berapa kali jumlahnya sampai memasuki kota Madinah.
4. Allah selalu melihat dan menyaksikan kita. Ini adalah pelajaran ke empat dari kisah si penggembala ini. Dia mengajari kita semua akan Muraqabatullah, dekatnya Allah dengan kita. Dimanapun kita, pasti Allah melihat kita, karena Allah memiliki Nama Al-Bashiir (Maha Melihat).
Di antara dalilnya dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah [2] ayat 233 Allah Ta’ala berfirman,
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Dalam Surat Ali Imran [3] ayat 15, 20 Allah SWT berfirman,
وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
“Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”
Kemudian dalam Surat QS. Al-Hadid [57] ayat 4 Allah SWT berfirman,
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚوَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Jamaah yang berbahagia,
Dari kisah dialog antara Ibnu Umar dan seorang penggembala kambing ini, kita belajar bahwa keimanan sejati tidak ditentukan oleh kedudukan, penampilan, ataupun status sosial, tetapi oleh ketulusan hati dalam menjaga amanah dan kesadaran akan pengawasan Allah SWT. Ucapan sederhana sang penggembala, “Fa ayna Allah? (Di mana Allah?)” menjadi pengingat abadi bagi setiap mukmin untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allah SWT dalam setiap perbuatan. Kisah ini mengajarkan makna muraqabah, kejujuran, dan keteguhan iman, serta menginspirasi kita untuk menumbuhkan nilai-nilai ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari, di mana pun dan dalam kondisi apa pun kita berada. KH. Ahmad Dahlan pernah berpesan, “Keislaman bukan hanya Allah ada di dalam jiwamu tetapi kehidupan Islam menjadi nyata melalui perilakumu.”
وَٱللّٰهُ أَعْلَمُ بِٱلصَّوَابِ
وَٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
Tidak ada komentar