Hal-hal yang Tidak Merusak Puasa
Hal-hal
yang Tidak Merusak Puasa
Tuntunan Ibadah Ramadhan (9)
KH. Sholakhuddin Sirizar, Lc, M.A
Direktur Pondok
Pesantren Modern Imam Syuhodo
1. Bangun di pagi hari dalam keadaan junub
Para ulama sepakat bahwa barang siapa yang tidur
kemudian mimpi basah, puasanya tidak rusak (tetap sah). Demikian juga jika
seseorang yang berpuasa bangun di pagi hari dalam keadaan junub, maka puasanya
tetap sah. Hal ini sesuai dengan yang diriwayatkan oleh 'Aisyah radhiallahu
‘anhuma dan Um Salamah radhiallahu ‘anhuma:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
ﷺ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ
أَهْلِهِ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ) .رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ(
“Bahwa Rasulullah ﷺ pernah
bangun setelah fajar dan beliau junub dari keluarga (istri)nya, kemudian beliau
mandi dan berpuasa.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
2. Mencium atau menyentuh istri, jika tidak
khawatir keluar mani (aman dari junub)
Sesuai dengan yang diriwayatkan oleh 'Aisyah radhiallahu
‘anhuma:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُقَبِّلُ
وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ) .رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ(
“Rasulullah ﷺ pernah
mencium dan menyentuh istrinya, sedang beliau dalam keadaan berpuasa. Dan
beliau adalah orang yang paling bisa menjaga syahwatnya.” (HR. Bukhari)
3. Mandi dan mengguyur kepalanya dengan air
untuk menyegarkan badan
Berdasarkan yang telah dilakukan oleh Nabi ﷺ,
لَقَدْ رَأَيْتُ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بِالْعَرْجِ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ
مِنَ الْعَطَشِ أَوْ مِنَ الْحَرِّ
“Sungguh, aku melihat Rasulullah ﷺ di
Al ‘Aroj mengguyur kepalanya -karena keadaan yang sangat haus atau sangat
terik- dengan air sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa.” (HR. Abu Dawud no. 2365)
4. Madhmadhah (berkumur), serta istinsyaq dan
istintsar (memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya kembali) yang tidak
berlebihan
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
وَبَالِغْ فِي
الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا. (رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ
التِّرْمِذِيُّ) وَفِي رِوَايَةِ الدُّولَابِيِّ، وَصَحَّحَ ابْنُ الْقَطَّانِ
إِسْنَادَهَا: إِذَا تَوَضَّأْتَ فَبَالِغْ فِي الْمَضْمَضَةِ وَالِاسْتِنْشَاقِ
مَا لَمْ تَكُنْ صَائِمًا.
Dan bersungguh-sungguhlah dalam menghisap air ke
hidung kecuali kalau kamu dalam keadaan berpuasa. (HR. Al-Khamsah dan
dishahihkan oleh At-Tirmidzi). Dan menurut riwayat Ad-Daulabi yang sanadnya
dishahihkan oleh Ibnu Qaththan: apabila kamu berwudhu, maka keraskanlah dalam
berkumur dan menghisap air ke hidung, asalkan kamu tidak berpuasa.
5. Mencicipi makanan karena ada kebutuhan,
asalkan tidak masuk ke perut
Sesuai dengan riwayat dari Abdullah bin Abbas radhiallahu
‘anhuma bahwa beliau berkata: Tidak mengapa untuk mencicipi cuka atau
sesuatu, asalkan tidak masuk ke tenggorokan, meskipun dalam keadaan puasa.
(Riwayat dari Ibn Abi Syaibah dan Al-Baihaqi). Demikian juga pendapat Syeikh
Ibn Taimiyyah: mencicipi makanan (bagi yang berpuasa) hukumnya makruh apabila
tidak ada kebutuhan, tetapi tidak membatalkannya, dan jika ada kebutuhan
hukumnya sama dengan berkumur. (Majmu' Al-Fatawa: 25: 266)
6. Al-Hijamah (berbekam), dan donor darah,
asalkan tidak khawatir menjadi lemah (tidak mampu berpuasa)
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin
Abbas radhiallahu ‘anhuma:
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ احْتَجَمَ
وَهُوَ صَائِمٌ) .رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ(
“Nabi ﷺ pernah
berbekam ketika sedang berpuasa.”
(H.R. Bukhari, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Adapun yang menjadi dalil bahwa berbekam itu
hukumnya makruh jika menjadikan tidak mampu berpuasa adalah riwayat dari
Tsabit. Beliau bertanya kepada Shahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:
Apakah kalian tidak menyukai (memakruhkan) berbekam ketika berpuasa pada zaman
Rasulullah ﷺ? Beliau
menjawab:
لَا، إِلَّا مِنْ
أَجْلِ الضَّعْفِ) .أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ(
“Tidak, kecuali kalau menjadikan lemah (tidak
mampu berpuasa).” (HR. Bukhari)
7. Makan dan minum dalam keadaan lupa
Berdasarkan sabda Nabi ﷺ dari
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,
مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ
فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ.
“Barangsiapa lupa sedang dia dalam keadaan
berpuasa, lalu dia makan atau minum, maka hendaklah dia menyempurna-kan
puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” (HR.
Al Bukhari dan Muslim)
8. Muntah dengan tidak sengaja
Berdasarkan sabda Nabi ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ
وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ
“Barangsiapa yang muntah menguasainya (muntah
tidak sengaja) sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qadha’
baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar
qadha’.” (HR. Abu Dawud, no. 2380; Ibnu Majah, no. 1676; Tirmidzi, no. 720.
Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if.
Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Penutup
Demikianlah tulisan sederhana tentang ibadah
puasa di bulan Ramadhan ini kami paparkan, dengan harapan agar kita dapat
melaksanakan amaliyah ibadah di dalam bulan Ramadhan ini dengan tata cara yang
benar dan berdasarkan dalil yang maqbul.
Karena setiap amal ibadah yang dilakukan oleh
orang yang beriman hanya akan diterima oleh Allah ﷻ apabila
memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas (ibadah itu dilakukan hanya untuk mencari
ridha dari Allah ﷻ) dan benar
(yaitu sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah ﷺ).
Tentunya tulisan yang sederhana ini masih jauh dari sempurna, maka harapan kami mudah-mudahan tulisan ini mendapat tanggapan-tanggapan dan masukan-masukan dari para pembaca. Wallahu a’lam bish shawab.
Tidak ada komentar