Keutamaan Bulan Ramadhan
Keutamaan Bulan Ramadhan
Tuntunan Ibadah Ramadhan (4)
KH. Sholakhuddin Sirizar, Lc, M.A
Direktur Pondok
Pesantren Modern Imam Syuhodo
Bulan Ramadhan mempunyai banyak keutamaan dan
keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Hal itu dapat
diketahui dari dalil-dalil berikut ini:
Sabda Nabi ﷺ dari
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ bersabda:
مَن قامَ لَيْلَةَ
القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ، وَمَن
صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ.
)رَوَاهُ البُخَارِيُّ(
“Barang siapa yang bangun (beribadah) di saat
Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan, diampunilah dosa-dosanya
yang telah lalu. Dan barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan
dan keikhlasan, diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari)
Sabda Nabi ﷺ dari
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا دَخَلَ شَهْرُ
رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ،
وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ. )رَوَاهُ البُخَارِيُّ(
“Apabila telah masuk bulan Ramadhan, maka pintu
langit dibuka, dan pintu Jahannam ditutup, dan syetan-syetan diikat /
dibelenggu.” (HR. Al-Bukhari)
Keutamaan Berbuat Baik di Bulan Ramadhan
Karena keutamaan bulan Ramadhan, maka semua
perbuatan baik yang dikerjakan di bulan tersebut juga dilebihkan, di antaranya
adalah sebagai berikut:
1. Sedekah
Berdasarkan sabda Nabi ﷺ, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu beliau berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ
أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ
يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَرِّسُهُ الْقُرْآنَ
فَلَرَسُولُ اللهِ ﷺ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ
الْمُرْسَلَةِ) .رواه البخارى و مسلم(
“Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, apalagi pada bulan
Ramadhan, ketika ditemui oleh Malaikat Jibril pada setiap malam pada bulan
Ramadhan, dan mengajaknya membaca dan mempelajari al-Qur’an. Ketika ditemui
Jibril, Rasulullah adalah lebih dermawan daripada angin yang ditiupkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
2. Shalat Tarawih atau Qiyam Al Lail atau Qiyam Ramadhan
Berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
«مَنْ قَامَ رَمَضَانَ
إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ». رواه البخارى و مسلم
“Barang siapa yang melakukan Qiyam Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan,
maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al Bukhari
dan Muslim)
Jumlah raka‘at Shalat
Tarawih adalah 11 raka‘at. Hal ini sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ sebagaimana disampaikan oleh ‘Aisyah radhiallahu
‘anhuma. Adapun pelaksanaannya dapat mengikuti salah satu dari enam cara
yang dituntunkan oleh Rasulullah ﷺ.
Dua di antara enam
cara tersebut adalah:
a. Empat
raka‘at, ditambah empat raka‘at, dan diakhiri dengan shalat witir tiga raka‘at.
Rumusnya: 4 + 4 + 3 = 11. Cara ini didasarkan pada riwayat dari Abi Salamah bin
'Abdurrahman, bahwa beliau bertanya kepada 'Aisyah radhiallahu ‘anhuma: bagaimana cara shalat Rasulullah ﷺ di bulan Ramadhan (tarawih)? 'Aisyah radhiallahu ‘anhuma menjawab:
مَاكَانَ يَزيْدُ فِي
رَمَضَانَ وَلا فِي غَيْرهِ عَلىَ إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أرْبَعاً
فَلا تَسْألْ عَنْ حُسْنِهنَّ وَطُوْلِهنَّ، ثمَّ يُصَلِّي أرْبَعاً فَلا تَسألْ
عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهنَّ، ثمَّ يُصَليِّ ثَلاثاً. فقلْتُ: يَارَسُوْلَ اللهِ
أتَنَامُ قبْلَ أنْ تُوْتِرَ؟ قالَ: يَاعَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ،
وَلا يَنَامُ قلبِي. )رَوَاهُ البُخَارِيُّ
وَمُسْلِمٌ(
“Rasulullah ﷺ tidak pernah (Shalat lail) baik itu di bulan Ramadhan maupun selain bulan
tersebut, lebih dari 11 raka'at. Beliau Shalat 4 raka'at, dan
jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau Shalat 4 raka'at, dan
jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian
beliau Shalat (witir) 3 raka'at. Maka
aku ('Aisyah) bertanya: Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum Shalat witir? Beliau
bersabda: Wahai 'Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidak
tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
b. Dua raka'at, sebanyak
empat kali, kemudian diakhiri dengan tiga raka'at witir. Rumusnya: 2 + 2 + 2 +
2 + 3 = 11. Cara ini didasarkan pada riwayat dari Abdullah bin Umar radhiallahu
‘anhuma, beliau
berkata:
قامَ رَجُلٌ فقالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ صَلاة
اللَّيْلِ؟ فقالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: (صَلاةُ الليْلِ مَثنَى
مَثنَى فإذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فأوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ). رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ
“Ada seorang (shahabat) yang berdiri dan
bertanya: Bagaimanakah caranya Shalat lail? Maka beliau
bersabda: “Shalat lail itu dua raka'at, dua raka'at. Maka apabila kalian khawatir
kedahuluan subuh, Shalat witirlah dengan satu raka'at”. (HR. Bukhari dan Muslim)
PENJELASAN:
1).
Hadits tentang jumlah rakaat shalat tarawih yang 11 rakaat sangat kuat, karena
diriwayatkan oleh dua Imam Muhadditsin (ahli hadits), yang menurut para ulama,
riwayat beliau berdua tidak perlu diragukan lagi keshohihannya.
2). Pada
hadits (a), secara dhohir, Rasulullah ﷺ shalat dengan 4+4+3, baik di dalam Ramadhan (tarawih) maupun di
luar Ramadhan. Jadi sangat tidak benar orang yang mem-bid’ah-kan cara ini.
3).
Kemudian pada hadits (b), Rasulullah ﷺ juga menganjurkan untuk shalat 2 rakaat salam, meskipun di sini
tidak menyebutkan jumlah rakaatnya. Bahkan kalau kita khawatir telah masuk
waktu subuh, Rasulullah ﷺ
menganjurkan shalat witirnya cukup satu rakaat. (Jadi kalau melihat dhohir-nya,
sebaiknya cara shalat seperti ini (dua-dua) dilakukan pada 1/3 malam terakhir).
4). Di dalam Himpunan
Putusan Majelis Tarjih (HPT) Muhammadiyah Hal:184, dua cara ini (empat/dua
rakaat) bisa dilakukan, karena memang ada dalilnya. Karena di dalam Manhaj
Tarjih Muhammadiyah disebutkan bahwa Al-Jam’u: الجمع (mengumpulkan beberapa hadits yang kelihatannya berbeda, untuk
dikompromikan) itu lebih didahulukan daripada At-Tarjih: الترجيح (mengambil salah satunya dan membuang yang lainnya).
5). Terakhir, perlu
diketahui bahwa ini adalah hasil ijtihad yang sudah dilakukan oleh para
ulama di Muhammadiyah. Maka kalau ada yang berbeda pendapat dalam berijtihad,
tentunya perlu adanya saling menghormati.
3. Membaca Al Qur'an Al Karim
Berdasarkan
hadis yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata:
لاَ أَعْلَمُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَرَأَ الْقُرْآنَ
كُلَّهُ فِي لَيْلَةٍ وَ لاَ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى الصَّبَاحِ وَلاَ صَامَ
شَهْرًا كَامِلاَ قَطُّ غَيْرَ رَمَضَانَ (رواه النسائى)
“Saya tidak mengetahui, Rasulullah ﷺ membaca
Al-Qur'an semuanya dalam satu malam, dan melakukan Qiyam Al Lail
sampai datangnya subuh, dan berpuasa sebulan penuh, selain di bulan Ramadhan.” (HR. An Nasa'i)
4. I’tikaf
Yaitu
menetap di masjid untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah ﷻ,
Rasulullah ﷺ selalu
beri'tikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan hingga Allah memanggilnya
(wafat), seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah bin 'Umar radhiallahu
‘anhuma berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ
الأوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ. (رواه
البخارى)
“Rasulullah ﷺ selalu
beri'tikaf pada sepuluh (hari) terakhir dari bulan
Ramadhan.” (HR. Bukhari)
5. 'Umrah
Berdasarkan
sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh
Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma:
عُمَرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِى. (متفق عليه)
“Umrah di bulan Ramadhan sama dengan haji bersamaku.” (Muttafaqun 'Alaih)
Tidak ada komentar