Muhammadiyah dan Tawassul: Menjaga Kemurnian Tauhid dalam Berdoa
Muhammadiyah dan Tawassul: Menjaga Kemurnian Tauhid dalam Berdoa
H. Sholahuddin Sirizar, Lc, M.A
Wakil Ketua PDM Sukoharjo, Anggota Majelis Tarjih dan Taddid PWM Jateng
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ...
Hadhirun dan hadhirat yang dirahmati Allah ﷻ.
Tawassul secara bahasa berarti mencari perantara. Dalam konteks syariat, tawassul adalah upaya seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ melalui suatu perantara atau wasilah agar doa atau permohonannya dikabulkan.
Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang memiliki cita-cita utama untuk mengembalikan umat Islam kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah Al-Maqbulah serta membersihkan praktik keagamaan dari penyakit TBC (takhayyul, bid’ah dan churafat), dan yang berbau kesyirikan, termasuk dalam berdoa. Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya akidah Islam yang murni. Dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 186 Allah ﷻ berfirman,
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ﴾
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
Ayat ini menegaskan bahwa Allah itu Maha Dekat dan kita dapat berdoa langsung tanpa perlu perantara apapun.
Kultum Ramadhan: Syariah Puasa dari Nabi ke Nabi
Hadhirun dan hadhirat yang dirahmati Allah ﷻ.
Dalam pandangan Muhammadiyah, merujuk pada tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah Al-Maqbulah, terdapat bentuk-bentuk tawassul yang masyru' (disyariatkan) dan tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Bentuk-bentuk ini diterima secara umum oleh para ulama, dan ditegaskan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, di antaranya:
1. Tawassul dengan Asmaul Husna dan Sifat-Sifat Allah ﷻ
Ini adalah bentuk tawassul yang paling utama dan jelas dasarnya. Ketika kita berdoa, kita memohon kepada Allah ﷻ dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah atau sifat-sifat-Nya yang mulia. Sebagaimana dala QS. Al-A’raf [7] ayat 180 Allah ﷻ berfirman,
﴿وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ﴾
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
Contohnya: “Ya Rahman, Ya Rahim, rahmatilah kami.”
2. Tawassul dengan Amal Sholih Diri Sendiri
Kita dianjurkan menjadikan amal shaleh yang pernah kita lakukan dengan ikhlas sebagai wasilah dalam berdoa. Ini didasarkan pada hadits shahih yang panjang yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua, di mana mereka memohon pertolongan Allah ﷻ dengan menyebutkan amal shaleh mereka masing-masing yang paling jujur dan ikhlas, sehingga doa tersebut dikabulkan oleh Allah ﷻ, dan bisa keluar dengan selamat. Seperti doa mereka:
اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ
“Ya Allah, jika aku lakukan semua itu karena berharap wajah-Mu, maka bebaskanlah aku dari apa yang aku alami ini.”
Hadits tersebut menunjukkan bahwa amal shaleh yang ikhlas adalah wasilah yang kuat di sisi Allah ﷻ.
3. Tawassul dengan Doa Orang Shaleh yang Masih Hidup dan Hadir
Seorang muslim boleh meminta kepada orang shaleh (ulama atau orang tua) yang masih hidup untuk mendoakannya di hadapan Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ pernah didatangi oleh para sahabat yang meminta beliau mendoakan mereka. Ini adalah bentuk tawassul yang masyru’ karena hakikatnya adalah meminta doa dari orang yang diharapkan doanya lebih mustajab, dan bukan meminta sesuatu kepada orang shaleh itu sendiri.
Hadhirun dan hadhirat yang dirahmati Allah ﷻ.
Muhammadiyah memiliki sikap yang sangat tegas terhadap jenis tawassul yang dianggap terlarang (at-tawassul al-mamnū'), karena berpotensi mengarah kepada syirik / dosa terbesar yang tidak diampuni Allah ﷻ.
Muhammadiyah melarang keras praktik tawassul kepada orang yang sudah meninggal, baik itu nabi, wali, atau ulama, dengan cara:
1. Meminta sesuatu secara langsung kepada ahli kubur (Istighatsah kepada selain Allah ﷻ).
2. Menjadikan ahli kubur sebagai perantara dalam doa kepada Allah ﷻ, seperti mengucapkan: "Ya Allah, dengan perantara si Fulan yang ada di kubur ini, kabulkanlah permohonanku."
Muhammadiyah memiliki alasan sangat mendasar:
1. Prinsip Tauhid Murni: Ajaran Islam memerintahkan kita untuk berdoa dan beribadah hanya kepada Allah ﷻ. Jika kita menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara, kita telah merusak kemurnian tauhid karena pada hakikatnya, orang yang sudah meninggal tidak lagi dapat memberikan manfaat atau mudharat bagi kita yang masih hidup di dunia ini.
2. Melanggar Sifat Allah Yang Maha Mendengar dan Dekat: Seperti yang disebutkan dalam surah Al-Baqarah [2] ayat 186, Allah itu sangat dekat. Menjadikan perantara berarti menganggap Allah jauh dan sulit dijangkau, padahal Dia Maha Mendengar setiap permohonan hamba-Nya.
3. Perlindungan dari Syirik: Praktik meminta kepada ahli kubur, walaupun diniatkan hanya sebagai perantara, pada kenyataannya seringkali berujung pada keyakinan bahwa wali atau ahli kubur tersebut memiliki kekuatan yang otonom untuk memenuhi hajat, sehingga jatuh kepada praktik syirik akbar. Bahkan orang musyrikpun ketika ditanya mengapa mereka menyembah berhala, mereka menjawab bahwa berhala-berhala itu hanya sekedar perantara (wasilah) saja, sebagaimana dalam QS. Az-Zumar [39] ayat 3 Allah ﷻ berfirman,
﴿أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”
Hadhirun dan hadhirat yang dirahmati Allah ﷻ.
Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid selalu menyeru agar kita berdoa secara langsung kepada Allah ﷻ dengan penuh keyakinan dan keikhlasan. Pergunakanlah wasilah yang telah disyariatkan, yaitu: Asmaul Husna, amal shaleh, dan doa dari orang shaleh yang masih hidup.
Janganlah kita menjadikan kuburan atau ahli kubur sebagai tempat tawassul, apalagi tempat beribadah, karena ini adalah bentuk penyimpangan dari ajaran Rasulullah ﷺ.
Tentang hal ini Buya Hamka mengatakan, “Rasa Tauhid tidaklah dapat menerima perbuatan ini. Memohon kepada beliau sendiri (ahli kubur) adalah satu perbuatan yang sia-sia karena beliau tidak akan berkuasa sedikit pun memberi apa yang diminta itu, melanggar isi Al-Fatihah ayat 5 yang setiap hari kita baca.”
Mari kita jadikan tauhid sebagai benteng utama keimanan kita. Berdoa-lah dengan penuh harap hanya kepada Allah ﷻ, Dzat yang memiliki segala kekuasaan.
Semoga kita semua senantiasa dibimbing oleh Allah ﷻ untuk istiqamah dalam menegakkan ajaran tauhid yang murni, sesuai tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah Al-Maqbulah.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Tidak ada komentar