Header Ads

Header ADS

Kultus Orang Shaleh: Belajar dari Kaum Nabi Nuh


Kultus Orang Shaleh: Belajar dari Kaum Nabi Nuh

KH. Tarno, S.Ag

Anggota Majelis Tabligh PDM Sukoharjo, Wakil Ketua PCM Blimbing

 

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

 

Hadirin yang berbahagia,

Hari ini kita akan belajar tentang bahaya kultus orang shaleh melalui kisah kaum Nabi Nuh AS, dan bagaimana pelajaran itu relevan dengan kehidupan kita sekarang. Orang shaleh adalah mereka yang selalu istiqomah dalam iman dan amal shaleh, menjauhi larangan Allah SWT, dan memberi manfaat bagi orang lain. Dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 82, Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَـٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.”

Nabiyullah Nuh AS adalah Rasul pertama yang Allah SwT utus untuk berdakwah menyeru manusia kepada jalan yang benar dan menarik mereka kepada cahaya kebenaran. Beliau diutus pada kurun kedua setelah turunnya Adam ke muka bumi. Ketika itu, kerusakan telah merajalela dan tersebar di tengah-tengah kaum beliau. Mereka terang-teangan melakukan kekafiran, kefasikan, dan durhaka kepada Allah SwT.

 

Kultum Ramadhan: Dahsyatnya Do’a di Bulan Ramadhan


Penyimpangan Aqidah Umat Nabi Nuh AS

Umat Nabi Nuh AS adalah umat yang pertama kali melakukan penyembahan terhadap berhala di muka bumi. Mereka menyekutukan Allah SwT, menyembah patung-patung, menjadikan selain Allah SwT sebagai tuhan-tuhan, meyakini tuhan-tuhan tersebut bisa mendatangkan manfaat dan madharat, dan menduga tuhan-tuhan tersebut melihat, mendengar, bahkan berakal.

Kisah Nabi Nuh mengajarkan kita tentang kesabaran dan keteguhan dalam ketaatan. Beliau diutus Allah untuk menegakkan tauhid di tengah kaumnya yang menyembah berhala. Munculnya penyimpangan akidah ini berawal ketika lima orang shalih yang ada di tengah-tengah mereka satu persatu meninggalkan mereka. Ketika orang shalih tersebut meninggal dunia, setan dengan penuh tipu daya mewahyukan kepada umat Nabi Nuh AS agar mereka membuat patung orang-orang shalih tersebut dan memberinya nama dengan nama-nama mereka. Mereka pun melaksanakan perintah setan. Di antara nama-nama berhala yang mereka sembah disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Nuh/71 ayat 23,

وَقَالُوْا لَا تَذَرُنَّ اٰلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَّلَا سُوَاعًا ەۙ وَّلَا يَغُوْثَ وَيَعُوْقَ وَنَسْرًاۚ

Mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhanmu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwā‘, Yagū, Ya‘ūq, dan Nasr.”

Tafsir para ulama menjelaskan bahwa Wadd, Suwa‘, Yaghūth, Ya‘ūq, dan Nasr sebenarnya nama-nama orang shaleh sebelum zaman Nabi Nuh diutus. Sebagaimana catatan kaki dalam terjemah Al-Qur’an Kemenag RI dikatakan bahwa, “Kelimanya adalah nama-nama berhala terbesar pada kabilah-kabilah kaum Nabi Nuh a.s. yang semula merupakan nama-nama orang shaleh.” Namun setelah mereka meninggal, kaum mereka menjadikan patung dan menyembahnya, hingga kebaikan mereka dijadikan objek kultus, bukan teladan. Ini menjadi peringatan bagi kita: kebaikan orang shaleh harus diikuti akhlaknya, bukan dipuja atau disembah.

Namun saat Nabi Nuh menyeru mereka agar tidak menyembah berhala, ajakan beliau justru disambut dengan hinaan dan hujatan, bahkan menganggap beliau sudah sesat. Diceritakan dalam QS. Al-A’raf [7] ayat 59-60, Allah SWT berfirman,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ ﴿٥٩﴾ قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Ilah bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa adzab hari yang besar (kiamat)”. Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata”.

 

Hadirin yang berbahagia,

Kultus Orang Shaleh di Zaman ini

Fenomena ini masih sangat mudah kita temui di zaman sekarang. Beberapa kuburan orang shaleh ada yang dikultuskan. Orang datang bukan untuk zikrul maut, mendoakan atau mentadabburi perjuangan beliau, tapi kadang malah memuja atau berharap “pertolongan gaib” dari makam mereka. Bahkan ada pula tokoh-tokoh yang masih hidup, seakan ingin dikultuskan atau dipuja secara berlebihan, diikuti oleh banyak orang yang menganggap mereka memiliki ‘karamah’. Di antaranya ada yang percaya, jika mereka meminum air yang dicelup jari “orang shaleh” tersebut, mereka akan mendapatkan berkah atau kesembuhan dari penyakit. Padahal, hal itu bisa menjerumuskan kita dari ajaran tauhid yang benar, karena segala berkah dan pertolongan hanyalah dari Allah SWT.

Sikap ghuluw (berlebihan) terhadap orang shalih adalah sebab paling awal yang menjerumuskan anak Adam pada perbuatan syirik akbar. Sehingga, tidak selayaknya, kaum muslimin bermudah-mudahan dan tidak merasa khawatir terhadap perbuatan ini. Inilah yang harus kita renungkan: hanya Allah SWT yang berhak diberikan pujian dan dimintai pertolongan. Padahal dalam shalat mereka selalu membaca QS. Al-Fatihah [1] ayat 5,

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”

Dalam HR. Bukhari no 3445, Rasulullah SAW bersabda,

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Janganlah kalian memujiku sebagaimana orang nashrani memuji Isa bin Maryam, aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah ‘ Hamba Allah dan RasulNya.”

 

Hadirin yang berbahagia,

Dari Nabi Nuh, kita belajar untuk tetap konsisten dalam ketaatan, sabar menghadapi ujian, dan bertawakal kepada Allah SWT. Orang shaleh adalah teladan dalam akhlak dan amal, bukan objek kultus. Ketika kita meneladani mereka, kita meneladani iman, amal, dan tawakal mereka, bukan meminta pertolongan dari mereka atau memuja mereka.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa keimanan adalah landasan keselamatan. Jangan sampai kita terjebak dalam kesombongan yang berujung pada azab. Mari kita ambil pelajaran dari kaum Nabi Nuh AS dan menjadikannya cermin kehidupan

Semoga Allah SWT menjadikan kita orang shaleh yang teladan, istiqomah dalam ketaatan, sabar dalam menghadapi ujian, dan selalu bertawakal hanya kepada-Nya. Semoga kita terhindar dari sikap menyekutukan-Nya. Amin.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مَعَ الشَّاكِرِينَ الصَّابِرِينَ، وَاجْمَعْنَا مَعَ الصَّالِحِينَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاجْعَلْنَا مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ، وَحَسُنَ أُولٰئِكَ رَفِيقًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Zemdega. Diberdayakan oleh Blogger.