Refleksi HUT ke-81 RI: Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur Harus Dimulai dari Pendidikan
Oleh: Muhammad Fatkhul Hajri,
S.Pd., M.Pd.
Kepala SMP Muhammadiyah
Imam Syuhodo
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan
Republik Indonesia kembali mengajak kita untuk berhenti sejenak, menengok
perjalanan sejarah, dan bertanya kepada diri sendiri: untuk apa kemerdekaan
diperjuangkan dan ke arah mana bangsa ini sedang berjalan?
Delapan puluh satu tahun bukan waktu yang singkat.
Kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan panjang, pengorbanan jiwa dan raga,
serta keberanian para pendahulu bangsa di bawah kepemimpinan Soekarno, Mohammad
Hatta, dan para pejuang di berbagai daerah. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus
1945 menjadi pintu awal bagi bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya
sendiri, membangun negara, dan berdiri sebagai bangsa yang berdaulat.
Namun, kemerdekaan bukanlah akhir perjuangan.
Kemerdekaan justru merupakan awal dari tanggung jawab yang jauh lebih panjang. Sejarah
mencatat, setelah Proklamasi, Indonesia masih harus menghadapi berbagai cobaan.
Agresi militer Belanda, berbagai pemberontakan, gerakan yang ingin memisahkan
diri, hingga kelompok yang berusaha mengganti ideologi negara menjadi ujian
terhadap persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Karena itu, peringatan HUT ke-81 RI semestinya tidak
berhenti pada upacara, lomba, pemasangan bendera, atau kemeriahan sesaat. Hari
Kemerdekaan RI harus menjadi momentum untuk mengevaluasi apakah cita-cita
kemerdekaan benar-benar semakin dekat dengan kehidupan rakyat.
Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur: Jangan Hanya
Menjadi Slogan
Pemerintah menetapkan tema HUT ke-81 RI tahun 2026: “Indonesia
Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Tema ini bukan sekadar rangkaian kata yang
terpampang di spanduk dan media sosial. Tema tersebut seharusnya menjadi ukuran
keberhasilan pembangunan bangsa.
Berdaulat berarti rakyat tidak boleh menjadi objek
yang terus-menerus dikendalikan kepentingan pihak lain. Adil berarti hukum dan
kebijakan tidak boleh hanya tajam kepada yang lemah. Makmur berarti hasil
pembangunan benar-benar dirasakan rakyat, bukan hanya terlihat dalam angka dan
proyek.
Kita harus berani bertanya. Apakah kedaulatan rakyat semakin kuat? Apakah keadilan benar-benar dirasakan semua lapisan masyarakat? Apakah rakyat semakin makmur?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak boleh dianggap
sebagai bentuk kebencian kepada pemerintah. Justru sebaliknya, kritik yang
jujur adalah bagian dari kecintaan kepada bangsa.
Jangan sampai bangsa yang dahulu berjuang mengusir
penjajah justru hari ini menghadapi bentuk penjajahan baru yang dilakukan oleh
sesama anak bangsa: melalui keserakahan, korupsi, ketidakadilan, penyalahgunaan
kekuasaan, monopoli, dan kebijakan yang lebih menguntungkan kelompok tertentu
daripada kepentingan rakyat banyak.
Dahulu sejarah mengenal istilah “londo ireng”,
yakni pribumi yang berdiri di pihak penjajah. Hari ini, bentuknya mungkin
berbeda. Namun, pengkhianatan terhadap kepentingan rakyat tetap bisa terjadi
ketika ada anak bangsa yang menjual kepentingan bangsanya sendiri demi
kekuasaan, jabatan, keuntungan, atau kepentingan kelompok.
Kita tentu mengingat ungkapan yang sering dinisbatkan
kepada Bung Karno: “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tetapi
perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”
Pesannya sangat relevan. Setelah merdeka, tantangan
terbesar bukan hanya mempertahankan wilayah dari penjajah, tetapi memastikan
kekuasaan tidak berubah menjadi alat untuk menjajah rakyat sendiri.
Belajar dari Rabi’ bin Amir: Kemerdekaan Manusia dari
Kezaliman
Dalam sejarah Islam, terdapat dialog terkenal antara Rabi’
bin Amir Radhiyallahu ‘anhu dan Rustum, panglima Persia. Rabi’ bin Amir Radhiyallahu
‘anhu menyampaikan misi kaum Muslimin untuk membebaskan manusia dari
penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah, dari
kezaliman menuju keadilan, serta dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia
dan akhirat.
Pesan tersebut mengandung satu prinsip penting: manusia
tidak boleh menjadi alat bagi manusia lainnya. Kemerdekaan yang sejati bukan
sekadar bebas dari penjajahan bangsa asing. Kemerdekaan juga berarti terbebas
dari ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, ketakutan, kesewenang-wenangan, dan
berbagai bentuk penindasan.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang Indonesia
yang berdaulat, adil, dan makmur, kita harus berbicara pula tentang pendidikan
yang merdeka, guru yang sejahtera, sekolah yang layak, dan anak-anak Indonesia
yang memperoleh kesempatan belajar secara adil.
Jika Ingin Indonesia Maju, Jangan Pernah Menomorduakan
Pendidikan
Sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, saya
melihat persoalan bangsa dari ruang yang sangat dekat: sekolah dan pendidikan. Di
sekolah, kita tidak hanya berbicara tentang angka rapor. Kita sedang menentukan
wajah Indonesia dua puluh, tiga puluh, bahkan lima puluh tahun yang akan
datang.
Anak-anak yang hari ini duduk di bangku SMP adalah
calon guru, dokter, insinyur, petani, pengusaha, birokrat, teknolog, ulama,
pemimpin, dan pengambil kebijakan pada masa depan. Karena itu, investasi
pendidikan seharusnya tidak boleh kalah penting dibandingkan pembangunan fisik.
Guru membutuhkan kesejahteraan. Sekolah membutuhkan
ruang belajar yang layak. Siswa membutuhkan buku yang baik. Laboratorium
membutuhkan peralatan. Perpustakaan membutuhkan koleksi. Anak-anak di daerah
terpencil membutuhkan akses pendidikan. Dan sekolah membutuhkan guru yang
cukup, berkualitas, serta dihargai profesinya.
Jangan sampai kita berbicara terlalu tinggi tentang
Indonesia Emas, Indonesia Maju, dan daya saing global, sementara masih ada
sekolah yang atapnya bocor, toilet tidak layak, perpustakaannya minim,
laboratoriumnya tidak memadai, dan guru masih sibuk memikirkan bagaimana
mencukupi kebutuhan hidup.
Negara tidak mungkin membangun sumber daya manusia
unggul dengan membiarkan ekosistem pendidikan berjalan dengan segala
keterbatasannya. Pendidikan bukan pengeluaran. Pendidikan adalah investasi
peradaban.
Jangan Sampai yang Wajib Ditinggalkan, yang Sunnah
Justru Dikerjakan
Di sinilah pemerintah perlu berani melakukan evaluasi
terhadap skala prioritas pembangunan. Kita tentu tidak sedang mengatakan bahwa
semua program pemerintah pasti buruk. Program yang baik harus didukung. Program
yang bermanfaat bagi rakyat harus diperkuat.
Tetapi, setiap kebijakan tetap harus berani diuji
dengan pertanyaan sederhana: Apakah ini benar-benar kebutuhan paling mendesak
rakyat?
Guru dan dosen membutuhkan kesejahteraan. Sekolah
membutuhkan fasilitas. Anak-anak membutuhkan pendidikan yang berkualitas.
Namun, di tengah kebutuhan tersebut, kita melihat lahirnya berbagai program dan
proyek baru.
Ada gagasan dan pembangunan institusi pendidikan baru.
Ada Sekolah Rakyat. Ada Universitas Repulik Indonesia.
Ada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan
pembangunan dan penyediaan dapur-dapur pendukungnya.
Ada pula Koperasi Desa Merah Putih yang membutuhkan
dukungan infrastruktur dan pembiayaan.
Semua program itu boleh dan bahkan harus diuji
manfaatnya. Tetapi jangan sampai terjadi paradoks pembangunan: gedung sekolah
yang belum layak dibiarkan, tetapi dapur MBG terus dibangun; akses jembatan dan
infrastruktur dasar masyarakat masih kurang, tetapi proyek baru Kopdes seakan dikebut;
kesejahteraan guru belum selesai, tetapi kita terus membuka berbagai program
baru.
Pertanyaannya bukan sekadar: “Apakah program itu
bagus?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah program itu merupakan
prioritas paling tepat pada saat ini?” Jangan sampai yang wajib ditinggalkan,
sementara yang sunnah justru dikerjakan.
Jika sekolah rusak, perbaiki sekolah. Jika guru belum
sejahtera, perhatikan guru. Jika anak-anak masih kesulitan belajar karena
keterbatasan fasilitas, penuhi fasilitasnya. Jika akses pendidikan belum
merata, perluas aksesnya. Jika kualitas pembelajaran tertinggal, tingkatkan
kualitas guru dan sistem pendidikannya.
Bangsa yang ingin maju harus berani membedakan antara
kebutuhan raykat dan keinginan penguasa, antara prioritas dan popularitas,
serta antara program yang benar-benar menyelesaikan masalah dengan program yang
sekadar terlihat besar.
MBG Harus Dikawal agar Tidak Berhenti pada Makanannya
Program Makan Bergizi Gratis atau MBG memiliki tujuan
yang baik apabila benar-benar diarahkan untuk memperbaiki gizi anak Indonesia. Namun,
dari perspektif pendidikan, kita harus melihat MBG lebih jauh daripada sekadar
makanan yang sampai ke meja siswa.
Anak membutuhkan makanan bergizi, tetapi anak juga
membutuhkan guru yang hadir, pembelajaran yang berkualitas, lingkungan sekolah
yang sehat, fasilitas pendidikan yang layak, serta pendidikan karakter yang
kuat.
Jangan sampai anak mendapatkan makanan bergizi, tetapi
kualitas pendidikannya tidak bergizi. Jangan sampai dapurnya bagus, tetapi
ruang kelasnya memprihatinkan. Jangan sampai anggaran besar terserap untuk
program pendukung, sementara persoalan fundamental pendidikan masih menunggu. MBG
harus menjadi bagian dari ekosistem pendidikan, bukan pengganti perhatian
terhadap pendidikan itu sendiri.
Koperasi Desa Merah Putih Harus Benar-Benar Menguatkan
Rakyat
Begitu pula dengan Koperasi Desa Merah Putih. Gagasan
membangun ekonomi dari desa tentu memiliki nilai strategis. Desa harus menjadi
pusat pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar objek pembangunan.
Tetapi koperasi tidak boleh hanya menjadi nama baru
dengan gedung baru. Koperasi harus benar-benar menjadi alat rakyat untuk
memperkuat ekonomi, memperpendek rantai distribusi, membantu petani, nelayan,
pelaku UMKM, dan masyarakat desa. Jangan sampai Koperasi Desa Merah Putih
justru melahirkan beban baru bagi desa atau hanya menjadi proyek administratif.
Jika ingin rakyat makmur, bangun ekonominya dari
bawah. Dan jika ingin ekonomi desa kuat, pendidikan masyarakat desanya juga
harus kuat. Di sinilah kembali kita melihat bahwa pendidikan dan kesejahteraan
tidak dapat dipisahkan.
Pendidikan Adalah Jalan Terpanjang Menuju Keadilan
Keadilan tidak cukup dibicarakan di ruang pengadilan. Keadilan
harus dirasakan anak desa ketika memperoleh pendidikan yang sama baiknya dengan
anak kota. Keadilan harus dirasakan guru ketika profesinya dihargai. Keadilan
harus dirasakan orang tua ketika biaya pendidikan tidak menjadi beban yang
menghimpit. Keadilan harus dirasakan anak-anak kurang mampu ketika mereka tetap
memiliki kesempatan untuk meraih cita-cita.
Kita masih sering mendengar ungkapan “hukum tajam ke
bawah, tumpul ke atas.” Semoga ungkapan itu tidak menjadi gambaran permanen
kehidupan berbangsa. Sebab Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur bukanlah
Indonesia yang hanya memiliki gedung-gedung tinggi, jalan-jalan besar, atau
pertumbuhan ekonomi yang terlihat dalam laporan.
Indonesia yang maju adalah Indonesia yang rakyat
kecilnya merasa dihargai, anak-anaknya memiliki masa depan, gurunya sejahtera,
hukumnya adil, dan hasil pembangunan tidak hanya dinikmati oleh mereka yang
sudah kaya.
Kemerdekaan Harus Dimulai dari Hal-Hal yang Nyata
Kemerdekaan adalah amanah. Kemerdekaan adalah rahmat
Allah SWT yang harus disyukuri dan dijaga. Semangat kemerdekaan juga sejalan
dengan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena itu, pembangunan
bangsa tidak boleh kehilangan nilai moral, agama, kemanusiaan, dan keadilan.
Gotong royong harus terus hidup. Kejujuran harus terus
dijaga. Persatuan harus diperkuat. Dan kritik terhadap pemerintah harus
ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab moral warga negara.
Kita tidak membutuhkan masyarakat yang hanya pandai
memuji. Kita membutuhkan masyarakat yang berani mengingatkan ketika ada yang
keliru, berani mendukung ketika ada yang benar, dan berani ikut bekerja ketika
ada persoalan bangsa yang harus diselesaikan.
Pada peringatan HUT ke-81 RI ini, ada beberapa pesan
yang menurut saya penting untuk kita renungkan bersama.
Pertama,
perkuat persatuan dan kerukunan agar tercipta suasana yang aman, damai, dan
kondusif sebagai fondasi pembangunan bangsa.
Kedua,
berikan ruang, kesempatan, dan kepercayaan kepada generasi muda untuk
berinovasi, berkarya, dan mengharumkan nama Indonesia melalui berbagai bidang.
Ketiga,
bekerja dengan disiplin, jujur, produktif, dan peduli terhadap sesama serta
lingkungan sebagai wujud nyata mengisi kemerdekaan.
Keempat,
jadikan keberhasilan pembangunan sebagai tanggung jawab bersama. Pemerintah
harus bekerja sungguh-sungguh, masyarakat harus berpartisipasi, dan keduanya
harus saling mengawasi dalam semangat membangun Indonesia.
Kelima,
tempatkan pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan bangsa. Jangan hanya
membangun sekolah baru, tetapi pastikan sekolah yang sudah ada juga layak.
Jangan hanya membuat program pendidikan baru, tetapi pastikan guru, siswa,
kurikulum, fasilitas, dan kualitas pembelajaran benar-benar diperhatikan.
Keenam,
evaluasi setiap kebijakan berdasarkan manfaat nyata bagi rakyat. Jangan takut
mengoreksi program yang tidak tepat sasaran. Jangan pula gengsi mempertahankan
kebijakan hanya karena sudah terlanjur dibuat.
Ketujuh,
jadikan rasa syukur kepada Allah SWT sebagai landasan dalam bekerja, berkarya,
dan mengabdi demi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Dan yang tidak kalah penting, jangan pernah kehilangan
keberanian untuk mengatakan yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai
salah. Sebab kemerdekaan tanpa keberanian hanya akan melahirkan masyarakat yang
bebas secara administratif, tetapi diam ketika melihat ketidakadilan.
Allah SWT mengabadikan doa Nabi Ibrahim:
Ùˆَاِذْ Ù‚َالَ
اِبْرٰÙ‡ِÙŠْÙ…ُ رَبِّ اجْعَÙ„ْ Ù‡ٰذَا الْبَÙ„َدَ اٰÙ…ِÙ†ًا ÙˆَّاجْÙ†ُبْÙ†ِÙŠْ ÙˆَبَÙ†ِÙŠَّ
اَÙ†ْ Ù†َّعْبُدَ الْاَصْÙ†َامَۗ
“(Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku,
jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak
cucuku dari penyembahan terhadap berhala-berhala.’” (QS. Ibrahim [14]: 35)
Doa tersebut mengajarkan kepada kita bahwa membangun
sebuah negeri tidak cukup hanya dengan membangun infrastrukturnya. Keamanan,
ketauhidan, moral, pendidikan, dan kualitas manusia adalah bagian yang tidak
terpisahkan dari kemajuan sebuah bangsa.
Maka, pada HUT ke-81 RI ini, mari kita bertanya lebih
dalam: apakah anak-anak Indonesia hari ini benar-benar sedang dipersiapkan
untuk menjadi generasi yang merdeka, berilmu, berkarakter, dan mampu berdiri di
atas kaki sendiri? Jika jawabannya belum, maka pekerjaan kita masih panjang.
Sebagai pendidik, saya percaya bahwa salah satu bentuk
perjuangan kemerdekaan yang paling nyata hari ini adalah mendidik anak-anak
Indonesia dengan sungguh-sungguh. Sebab bangsa yang kehilangan pendidikan akan
kehilangan masa depan. Bangsa yang mengabaikan guru akan melemahkan generasi. Dan
bangsa yang salah menentukan prioritas pembangunan akan membayar mahal
kesalahannya di masa depan.
Karena itu, mari kita isi kemerdekaan bukan hanya
dengan seremoni, tetapi dengan pendidikan yang bermutu, guru yang sejahtera,
sekolah yang layak, hukum yang adil, ekonomi yang berpihak kepada rakyat, dan
kebijakan pemerintah yang benar-benar menempatkan kepentingan rakyat sebagai
prioritas.
Semoga Allah SWT menjaga Indonesia, menjadikan negeri
ini aman, berdaulat, adil, dan makmur; menjaga persatuan bangsa; memberikan
kekuatan kepada para pemimpin agar amanah; serta memerdekakan saudara-saudara
kita di Palestina dan seluruh negeri yang masih mengalami penjajahan dan
penindasan.
Dirgahayu Republik Indonesia.
Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!

Tidak ada komentar