Header Ads

Header ADS

Refleksi Milad ke-61: KOKAM Tangguh Menjaga Persatuan, Membangun Peradaban Bangsa


Muhammad Fatkhul Hajri, S.Pd., M.Pd.

Kepala SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo, Wakil Ketua PC Pemuda Muhammadiyah Blimbing


Milad ke-61 KOKAM pada 1 Oktober 2026 bukan sekadar penanda perjalanan waktu, tetapi momentum untuk melakukan refleksi terhadap arah perjuangan dan pengabdian kader-kader KOKAM di tengah perubahan zaman. Enam puluh satu tahun merupakan perjalanan panjang yang di dalamnya terdapat sejarah perjuangan, pengorbanan, loyalitas, dan pengabdian. KOKAM lahir dalam situasi bangsa yang penuh ketegangan dan sejak awal keberadaannya menjadi bagian dari dinamika perjuangan Pemuda Muhammadiyah dalam menjaga Persyarikatan, umat, dan bangsa. Karena itu, usia 61 tahun semestinya tidak hanya dirayakan dengan seremoni, tetapi juga menjadi kesempatan untuk bertanya apakah ruh perjuangan yang melahirkan KOKAM masih terjaga dan bagaimana nilai-nilai tersebut diterjemahkan dalam kehidupan kader hari ini.

Tema Milad ke-61, “KOKAM Tangguh Menjaga Persatuan, Membangun Peradaban Bangsa”, memiliki pesan yang sangat penting. Ketangguhan KOKAM tidak boleh hanya dimaknai sebagai kemampuan fisik, kedisiplinan barisan, atau kesiapan dalam menjalankan tugas pengamanan, tetapi harus mencakup ketangguhan tauhid, akhlak, ilmu, mental, dan keberanian moral. KOKAM yang tangguh adalah KOKAM yang mampu berdiri tegak menghadapi tantangan tanpa kehilangan arah perjuangan, mampu bersikap tegas tanpa kehilangan akhlak, serta mampu mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri Muhammadiyah.

Dalam konteks itu, motto Tauhid, Ilmu, Amal menjadi sangat relevan. Tauhid merupakan fondasi yang menjaga kader agar seluruh pengabdian tetap diarahkan kepada Allah Swt. dan tidak berubah menjadi ambisi pribadi. Ilmu menjadi bekal agar keberanian memiliki arah dan tindakan tidak dilakukan secara serampangan. Sementara amal menjadi bukti bahwa tauhid dan ilmu tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam kerja nyata yang memberi manfaat kepada umat, Persyarikatan, dan bangsa. Tiga hal tersebut semestinya menjadi satu kesatuan dalam karakter kader KOKAM: kuat keyakinannya, luas ilmunya, dan nyata pengabdiannya.

Kita patut bersyukur bahwa ruhul jihad dan ruhul ikhlas masih sangat terasa di kalangan kader KOKAM dan Pemuda Muhammadiyah di akar rumput. Di banyak tempat, kader tetap bersedia meluangkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya untuk kegiatan Persyarikatan. Mereka hadir dalam pengamanan pengajian, membantu kegiatan sosial, terlibat dalam penanganan kebencanaan, menjaga kegiatan organisasi, dan menjalankan berbagai tugas yang terkadang tidak terlihat oleh publik. Mereka bekerja bukan karena ingin mendapatkan pujian, tetapi karena merasa memiliki tanggung jawab terhadap Persyarikatan dan umat. Energi pengabdian seperti inilah yang sesungguhnya menjadi modal besar bagi masa depan KOKAM.


Menjaga Ruh Pengabdian dan Independensi Gerakan

Justru karena ruhul jihad dan ruhul ikhlas itu masih kuat di akar rumput, kepemimpinan organisasi memiliki tanggung jawab untuk memberikan keteladanan yang sepadan. Jangan sampai semangat kader di bawah yang dibangun dengan keikhlasan tidak menemukan teladan yang sama kuatnya di tingkat kepemimpinan. Kader membutuhkan contoh bahwa organisasi bukan sekadar ruang untuk memperluas pengaruh, mendapatkan posisi, atau membangun akses kekuasaan, melainkan tempat untuk memperbesar manfaat dan memperkuat pengabdian.

Di sinilah kegelisahan terhadap hubungan organisasi dengan kepentingan politik perlu dibicarakan secara terbuka dan dewasa. Saya sama sekali tidak meragukan ruhul jihad dan ruhul ikhlas kader-kader KOKAM dan Pemuda Muhammadiyah di akar rumput. Namun, di tingkat pusat, kita perlu terus memastikan bahwa semangat dakwah dan pengabdian tidak kalah kuat oleh kepentingan politik praktis. Ruang politik memang terbuka bagi kader Muhammadiyah, bahkan kader yang memiliki kapasitas dan kesempatan untuk mengabdi melalui jalur politik dapat memberikan kontribusi yang besar bagi bangsa. Akan tetapi, organisasi tidak semestinya diperlakukan sebagai batu loncatan untuk memperoleh kekuasaan, jabatan, atau keuntungan pribadi.

Kader yang memasuki panggung politik justru seharusnya semakin menunjukkan kualitas pengabdian dan nilai-nilai Muhammadiyah. Ketika memperoleh posisi, ia harus semakin mudah ditemui umat, semakin kuat keberpihakannya kepada kepentingan masyarakat, dan semakin besar kontribusinya kepada Persyarikatan. Jangan sampai setelah memperoleh ruang di panggung politik, orientasinya justru terus memperluas lahan kekuasaan dan pengaruh, seolah-olah organisasi harus selalu menjadi bagian dari kepentingan tersebut. Kekhawatiran semacam ini penting disampaikan bukan karena politik harus dijauhi, tetapi karena politik tanpa kendali nilai dapat menggeser orientasi gerakan dari pengabdian menuju kepentingan pribadi dan kelompok.

Pemuda Muhammadiyah dan KOKAM memiliki posisi strategis sebagai organisasi kader yang berada di tengah masyarakat dan sekaligus bagian dari kekuatan masyarakat sipil. Karena itu, independensi organisasi harus tetap dijaga. Independensi bukan berarti kader harus menjauhi politik, melainkan memastikan bahwa organisasi tidak tunduk kepada kepentingan politik praktis. Kader boleh berada di partai politik, pemerintahan, legislatif, atau berbagai ruang kekuasaan, tetapi ketika membawa nama organisasi, kepentingan Persyarikatan, umat, dan bangsa harus tetap menjadi pertimbangan utama. Dengan independensi tersebut, Pemuda Muhammadiyah dan KOKAM dapat menjalankan fungsi kontrol sosial secara objektif dan tidak kehilangan keberanian untuk mengkritik kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat.

Kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya kepentingan politik ke ruang-ruang strategis Persyarikatan juga perlu menjadi perhatian bersama menjelang Tanwir dan Muktamar Muhammadiyah. Kita tidak perlu membangun prasangka kepada siapa pun, tetapi juga tidak boleh kehilangan kewaspadaan. Tanwir dan Muktamar adalah forum permusyawaratan tertinggi yang harus dijaga marwahnya agar tetap menjadi ruang untuk membicarakan masa depan Muhammadiyah, bukan arena untuk memperluas pengaruh kelompok atau kepentingan politik tertentu. Karena itu, seluruh peserta Tanwir dan Muktamar perlu memiliki keteguhan, kejernihan berpikir, dan kedewasaan dalam membaca berbagai kepentingan yang mungkin hadir.

Semoga Allah menjaga bapak-bapak peserta Tanwir dan Muktamar dari tipu daya, kepentingan tersembunyi, dan berbagai godaan yang dapat mengganggu kemurnian perjuangan Muhammadiyah. Semoga Allah menjaga Muhammadiyah dan seluruh warga di dalamnya agar tetap istiqamah dalam menjalankan dakwah amar makruf nahi mungkar dan menghadirkan Islam berkemajuan bagi kehidupan umat dan bangsa.


Dari Ketangguhan Kader Menuju Peradaban Bangsa

Menjaga persatuan dan membangun peradaban bangsa membutuhkan kader yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara spiritual, intelektual, dan sosial. KOKAM tidak boleh berhenti pada citra sebagai pasukan yang gagah dan disiplin, tetapi harus berkembang menjadi kekuatan kader yang memiliki kapasitas untuk menjawab persoalan masyarakat. Tantangan bangsa hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Persoalan kemiskinan, ketimpangan sosial, krisis moral, disinformasi, perkembangan teknologi, perubahan budaya, dan berbagai persoalan kebangsaan membutuhkan kader yang memiliki wawasan luas serta kemampuan untuk memberikan solusi.

Karena itu, kaderisasi KOKAM harus terus diperkuat. Penguatan fisik dan kedisiplinan tetap penting, tetapi harus berjalan bersama dengan penguatan ilmu agama, wawasan kebangsaan, kepemimpinan, kemampuan komunikasi, literasi digital, keterampilan sosial, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Dengan demikian, kader KOKAM tidak hanya siap ketika mendapat tugas pengamanan, tetapi juga siap ketika masyarakat membutuhkan tenaga kemanusiaan, pemikiran, kepemimpinan, dan solusi.

Di sinilah motto Tauhid, Ilmu, Amal harus benar-benar menjadi karakter, bukan sekadar semboyan. Tauhid membuat kader memiliki orientasi pengabdian yang benar, ilmu membuat kader mampu membaca perubahan dan mengambil keputusan secara bijaksana, sedangkan amal memastikan seluruh pengetahuan tersebut menghasilkan manfaat nyata. Kader yang kuat tauhidnya tidak mudah menjadikan organisasi sebagai alat kepentingan pribadi, kader yang kuat ilmunya tidak mudah diprovokasi, dan kader yang kuat amalnya tidak sibuk mencari pengakuan atas setiap pengabdiannya.

Enam puluh satu tahun KOKAM juga menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang berada di panggung utama. Banyak kader di akar rumput yang bekerja dalam diam dan justru menjadi penyangga utama keberlangsungan organisasi. Mereka tidak selalu dikenal, tidak selalu mendapatkan jabatan, dan tidak selalu hadir dalam pemberitaan, tetapi pengabdian mereka menjaga denyut organisasi tetap hidup. Kader-kader seperti inilah yang harus terus dirawat semangatnya melalui kaderisasi yang sehat, kepemimpinan yang memberi teladan, dan organisasi yang memberikan ruang bagi pengabdian yang tulus.

KOKAM juga harus terus menjadi bagian dari usaha Muhammadiyah dalam membangun peradaban bangsa. Peradaban tidak dibangun hanya melalui kekuasaan, tetapi melalui manusia-manusia yang memiliki integritas, ilmu, akhlak, dan kesediaan untuk bekerja bagi kepentingan yang lebih besar. Karena itu, kader KOKAM harus mampu membawa nilai-nilai Muhammadiyah ke tengah kehidupan masyarakat melalui karya nyata. Ketika terjadi bencana, KOKAM hadir membantu. Ketika masyarakat membutuhkan penguatan sosial, KOKAM ikut bergerak. Ketika generasi muda membutuhkan keteladanan, kader hadir dengan akhlak dan ilmu. Ketika bangsa menghadapi persoalan, kader ikut memberikan solusi sesuai kapasitasnya.

Pada akhirnya, tantangan terbesar KOKAM bukan sekadar bagaimana mempertahankan keberadaan organisasi selama puluhan tahun ke depan, tetapi bagaimana memastikan bahwa setiap generasi kader tetap memiliki ruh perjuangan yang sama. Perubahan zaman boleh terjadi, teknologi boleh berkembang, bentuk tantangan boleh berganti, dan ruang pengabdian boleh semakin luas, tetapi fondasinya harus tetap sama: tauhid yang kokoh, ilmu yang terus dikembangkan, dan amal yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh umat.

Milad ke-61 KOKAM karena itu harus menjadi momentum untuk memperbarui komitmen. KOKAM harus tetap tangguh dalam menjaga persatuan, kuat dalam menghadapi tantangan, matang dalam mengambil sikap, dan ikhlas dalam menjalankan pengabdian. Kader boleh memasuki berbagai ruang kehidupan, termasuk ruang politik, ekonomi, pemerintahan, pendidikan, dan sosial, tetapi jangan sampai kehilangan akar perjuangan. Semakin tinggi posisi seorang kader, semestinya semakin besar pula manfaat yang diberikan kepada umat dan Persyarikatan.

Enam puluh satu tahun perjalanan KOKAM adalah amanah yang harus dilanjutkan. Generasi hari ini tidak hanya menerima warisan sejarah, tetapi juga menerima tanggung jawab untuk menjaga ruh pengabdian yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya. Dengan tauhid sebagai fondasi, ilmu sebagai bekal, dan amal sebagai pembuktian, KOKAM diharapkan terus melahirkan kader-kader tangguh yang mampu menjaga persatuan sekaligus ikut membangun peradaban bangsa.

Selamat Milad ke-61 KOKAM, 1 Oktober 1965–1 Oktober 2026. Semoga KOKAM semakin dewasa dalam organisasi, semakin kuat dalam kaderisasi, semakin luas dalam pengabdian, dan semakin nyata kontribusinya bagi Muhammadiyah, umat, dan Indonesia.

KOKAM Tangguh Menjaga Persatuan, Membangun Peradaban Bangsa.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Zemdega. Diberdayakan oleh Blogger.