Header Ads

Header ADS

Ketika Lisan Pemimpin Menjadi Tantangan bagi Dunia Pendidikan


Dr. Muhammad Nasri Dini

Wakil Ketua Majelis Tabligh PDM Sukoharjo, Jawa Tengah


Menjadi pendidik di negeri ini semakin hari terasa semakin berat. Di ruang-ruang kelas, para guru dengan sabar menanamkan adab kepada murid-muridnya. Mereka mengajarkan sabda Rasulullah ï·º:

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Guru mengingatkan bahwa lisan adalah cermin kepribadian. Kata-kata kasar, umpatan, dan makian bukanlah akhlak seorang muslim, apalagi seorang yang terdidik. Bahkan Al-Qur'an memerintahkan:

"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik." (QS. Al-Isra': 53)

Namun, pelajaran di sekolah sering kali berbenturan dengan kenyataan yang disaksikan anak-anak di ruang publik.


Tantangan Keteladanan di Ruang Publik

Ketika seorang presiden dengan mudah mengucapkan kata-kata kasar seperti "end*smu" hingga "b*jing*n" dalam forum terbuka, sesungguhnya yang dipertaruhkan bukan sekadar pilihan diksi. Yang dipertaruhkan adalah keteladanan. Sebab, seorang pemimpin bukan hanya didengar karena jabatannya, tetapi juga ditiru karena posisinya.

Lebih memprihatinkan lagi ketika dalam sebuah forum, seorang Menteri Pendidikan justru terlihat seakan mengaminkan ucapan tersebut. Bagi seorang pendidik, itu adalah kesempatan yang terlewat untuk menunjukkan keberpihakan kepada nilai-nilai pendidikan.

Seandainya kita sebagai guru berada di posisi itu, tentu kita tidak akan mempermalukan presiden atau membantahnya secara terbuka. Cukup dengan isyarat yang santun, misalkan melambaikan tangan pelan atau memberi tanda silang sambil tetap tersenyum, sebagai pesan bahwa kata-kata seperti itu tidak layak diucapkan karena menjadi contoh buruk bagi peserta didik. Menghormati pemimpin adalah adab, tetapi menjaga marwah pendidikan juga merupakan amanah.

Harapan itu terasa semakin wajar mengingat Menteri Pendidikan berasal dari Muhammadiyah, sebuah gerakan Islam yang sejak awal berdirinya menjadikan pendidikan sebagai jalan dakwah dalam membangun peradaban. Muhammadiyah mendidik bukan hanya agar anak-anak menjadi pintar, tetapi juga agar mereka menjadi manusia yang berakhlak.


Ketika Anak-Anak Meniru Tokoh Publik

Masalahnya, saat ini anak-anak belajar bukan hanya dari buku pelajaran. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan dari siapa yang mereka kagumi. Dalam ilmu pendidikan dikenal bahwa keteladanan sering kali lebih kuat daripada nasihat. Apa yang dilakukan tokoh publik mudah sekali menjadi pembenaran bagi perilaku generasi muda.

Maka jangan heran apabila suatu hari guru menegur murid yang berkata kasar, "Siapa yang mengajari kamu berbicara seperti itu?"

Bisa jadi jawabannya sederhana, tetapi mengandung ironi yang dalam, "Lho, Pak Guru tidak tahu? Yang ngomong begitu kan Presiden."

Kalimat itu mungkin terdengar satir. Namun, justru di situlah letak kegelisahannya. Bukan karena anak-anak sedang membangkang, melainkan karena mereka sedang meniru.


Tanggung Jawab Lisan Seorang Pemimpin

Islam mengajarkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Rasulullah ï·º bersabda:

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, pemimpin tidak cukup hanya mengambil keputusan yang benar. Ia juga dituntut memberi teladan yang benar. Lisan seorang pemimpin bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga salah satu instrumen pendidikan bagi segenap anak bangsa.

Sekolah boleh terus mengajarkan adab. Guru boleh terus mengingatkan pentingnya menjaga lisan. Orang tua boleh terus menasihati anak-anaknya agar berkata baik. Namun, semua ikhtiar itu akan jauh lebih ringan apabila para pemimpin bangsa ikut menjadi teladan.

Sebab, pendidikan bukan hanya soal apa yang diajarkan, tetapi juga siapa yang memberi contoh. Wallahul Musta'an.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Zemdega. Diberdayakan oleh Blogger.