Rezeki Sudah Ditetapkan Allah, Mengapa Kita Tetap Perlu Memikirkan Ekonomi?
Gejolak ekonomi bisa membuat banyak orang khawatir. Namun, seorang muslim tidak boleh tenggelam dalam ketakutan berlebihan terhadap kondisi ekonomi, inflasi, atau naik turunnya nilai mata uang.
Sebagai seorang muslim, kita tentu diperintahkan untuk berikhtiar, dengan bekerja lebih giat, mengelola keuangan dengan bijak, mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, dan mencari sumber penghasilan yang halal.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh hilang; keyakinan bahwa rezeki datang dari Allah ﷻ.
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Banyak orang terlalu sibuk memantau grafik ekonomi, tetapi lupa memperkuat hubungan dengan Pemilik seluruh rezeki.
Doa-doa berikut ini bisa diamalkan ketika menghadapi kesulitan ekonomi, sempitnya rezeki, dan ketidakpastian masa depan.
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya.” (HR. An-Nasa’i)
اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (HR. Ibnu Majah)
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاهْدِني، وَعَافِني، وَارْزُقْنِي
“Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah petunjuk padaku, selamatkanlah aku (dari berbagai penyakit), dan berikanlah rezeki kepadaku.” (HR. Muslim)
Agar Doa Mudah Dikabulkan
Cobalah kita lihat, bagaimanakah mustajabnya do’a Nabi Yunus ‘alaihis salam. Hal ini pernah disebutkan oleh Nabi ﷺ,
“Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
(“Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat aniaya”).
Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya.” (HR. Tirmidzi)
Pertanyaan yang Sering Muncul: Rezeki, Kurs, dan Ekonomi
Ketika kondisi ekonomi sedang tidak menentu, sering muncul dua pertanyaan yang tampak bertolak belakang.
Sebagian orang bertanya, "Kalau rezeki sudah diatur Allah, mengapa harus peduli dengan kurs dolar, inflasi, atau kebijakan pemerintah?"
Sebagian yang lain bertanya, "Kalau kurs naik dan ekonomi memburuk, apakah cukup dengan berdoa?"
Di balik kedua pertanyaan tersebut terdapat anggapan bahwa seseorang harus memilih antara keyakinan kepada takdir Allah ﷻ atau perhatian terhadap realitas ekonomi. Padahal Islam tidak mengajarkan demikian. Seorang muslim tidak diperintahkan untuk mengabaikan sebab-sebab duniawi, dan tidak pula diperintahkan untuk menggantungkan harapan kepada sebab-sebab tersebut semata.
Rezeki dari Allah ﷻ dan Pentingnya Mengambil Sebab
Seorang muslim meyakini bahwa Allah ﷻ telah menetapkan rezeki setiap hamba-Nya. Namun Allah ﷻ juga menetapkan jalan dan sebab yang mengantarkan seseorang kepada rezeki tersebut.
Karena itu, beriman kepada takdir tidak berarti mengabaikan sebab.
Petani harus menanam agar dapat memanen hasilnya. Pedagang harus berdagang untuk memperoleh keuntungan. Buruh harus bekerja untuk mendapatkan upah. Nelayan harus melaut untuk mendapatkan tangkapan.
Semua itu merupakan sebab-sebab yang Allah ﷻ ciptakan dalam kehidupan manusia. Seseorang tidak dapat meninggalkan sebab lalu mengaku bertawakal. Sebaliknya, ia mengambil sebab yang dibenarkan syariat, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah ﷻ.
Dengan demikian, keyakinan kepada takdir dan usaha yang sungguh-sungguh bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi.
Mengapa Kondisi Ekonomi Tetap Perlu Diperhatikan?
Meyakini bahwa rezeki berasal dari Allah ﷻ bukan berarti menutup mata terhadap realitas yang terjadi di masyarakat.
Kenaikan kurs dolar, inflasi, dan berbagai kebijakan ekonomi dapat membawa dampak yang nyata. Bagi banyak pelaku usaha, biaya impor meningkat, harga bahan baku naik, margin keuntungan menurun, dan daya beli masyarakat melemah. Akibatnya, kesulitan ekonomi dapat dirasakan oleh banyak lapisan masyarakat.
Islam tidak mengajarkan sikap yang mengabaikan kenyataan semacam ini. Kesulitan ekonomi adalah ujian yang nyata dan karena itu perlu dihadapi dengan langkah-langkah yang nyata pula.
Kita mengakui adanya pengaruh faktor ekonomi terhadap kehidupan manusia. Namun pada saat yang sama, kita tetap meyakini bahwa seluruh rezeki berada di tangan Allah ﷻ. Mengakui sebab tidak berarti melupakan Musabbibul Asbab, yaitu Allah ﷻ yang menciptakan seluruh sebab tersebut.
Tanggung Jawab Pemimpin dan Rakyat
Ketika masyarakat menghadapi kesulitan ekonomi, setiap pihak memiliki tanggung jawab sesuai kedudukannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban." (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)
Para pemimpin berkewajiban mengelola amanah dengan baik, membuat kebijakan yang berpihak kepada kemaslahatan rakyat, mendengarkan keluhan masyarakat, serta berupaya mengurangi kezaliman dan kerusakan. Kebijakan yang baik dapat menjadi salah satu sebab terbukanya pintu-pintu rezeki bagi masyarakat.
Di sisi lain, rakyat juga memiliki kewajiban. Mereka diperintahkan untuk bekerja dan berikhtiar, menjaga kejujuran dalam muamalah, tidak menyebarkan kepanikan, serta memberikan nasihat dengan cara yang benar.
Lalu bagaimana jika pemimpin tidak menunaikan kewajibannya?
Rasulullah ﷺ bersabda:
فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوا، وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ
"Sesungguhnya kewajiban atas mereka (untuk menunaikan) apa yang dibebankan kepada mereka (penguasa) dan menjadi kewajiban kalian (untuk menunaikan) apa yang dibebankan kepada kalian (rakyat)." (HR. Muslim no. 1846)
Hadis ini mengajarkan bahwa setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas amanahnya masing-masing. Kelalaian pihak lain tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk meninggalkan kewajibannya sendiri.
Sikap Seorang Muslim Saat Ekonomi Bergejolak
Saat ujian ekonomi datang, seorang muslim tidak boleh terjatuh ke dalam dua sikap yang keliru.
Keliru jika mengatakan, "Tidak perlu usaha, cukup berdoa."
Keliru pula jika mengatakan, "Tidak perlu berdoa, cukup berusaha."
Seorang muslim memahami bahwa rezeki berasal dari Allah ﷻ, sementara sebab-sebab untuk memperoleh rezeki juga merupakan bagian dari ketetapan Allah ﷻ. Karena itu, ikhtiar dan doa harus berjalan bersama.
Di tengah gejolak ekonomi, seorang muslim memperbaiki usahanya, bekerja dengan jujur, menunaikan tanggung jawabnya, memberikan nasihat dengan cara yang baik, serta mendoakan kebaikan bagi dirinya dan masyarakat. Namun di atas semua itu, ia tetap menggantungkan harapan, tawakal, dan keyakinannya hanya kepada Allah ﷻ.
Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam: tidak mengabaikan sebab, tetapi juga tidak bergantung kepada sebab. Berusaha dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan penuh harap, dan meyakini bahwa segala rezeki pada akhirnya datang dari Allah ﷻ.
Catatan: Tulisan ini merupakan adaptasi dan pengembangan dari materi yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Abduh Tuasikal melalui unggahan Instagram berikut:
Tidak ada komentar